FORGIVE?
Hahah,, ini sebenernya harus nya jadi edisi pertama dari Forgive? (2) tapi gue baru kepikiran buat nulisnya setelah buat forgive sesi 2 itu. jadi tidak apa ya. Forgive 1 yang ini adalah saat gue mempelajari arti sebuah pengampunan untuk pertama kalinya.
This is my calatorie.....
Gue belajar untuk mengerti arti sebuah pengampunan itu dari perjalanan hidup gue bersama MAMA. Yes, you're not hearing it wrong. MOM. Gue dilahirkan dan dibesarkan di keluarga dengan mama yang cukup keras. Menurut gue, waktu itu mama sangat amat bukan mama yang baik. Ini berawal dari SD kelas 3, dimana gue sudah mengerti arti persahabatan (sudah mulai punya teman baik, ceritanya). Gue jadi punya beberapa teman dekat. Seringlah namanya juga anak-anak, main ke rumah teman itu biasa, wajar. Tapi di saat itu, mama gue tidak terlalu mengijinkan. Mungkin karena waktu itu gue sudah terlalu sangat amat sering keluar rumah, jadi mulailah 'keras' mama keliatan. Dia mulai menarik gue pulang dengan paksa, mulai 'memukul' dengan ini dan itu (mungkin beberapa dari kalian mengalami hal yang sama). Dan hal itu berlangsung lama. Semakin dilarang ini dan itu. Sampai ada satu titik dimana gue mulai melawan perkataan nyokap. Gue bilang "Aku minta kebebasan!" Dan akhirnya gue pun keluar rumah dari siang, sampai malam baru pulang. Mungkin itu pertama kalinya yang membuat gua sangat amat tidak menyukai mama.
Ini pernyataan yang pasti setiap kita pernah mendengar, bahwa hidup itu terkadang menjadi sebuah perbandingan. Kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain, atau bahkan banyak orang membandingkan kita dengan orang lain atau dirinya sendiri. Itu terjadi dengan hidup gue. Gue sudah menjadi bahan perbandingan sejak kecil, dan tak lain tak bukan adalah mama gua sendiri. Dari kecil, mama suka bandingin, "kenapa kamu dapat nilai jelek sih? Kayak dia dong, pintar, juara, kamu nilai jelek mulu." Kalau sama teman mungkin tidak begitu berasa, tapi gimana kalau misalkan itu terjadi dengan saudara mu sendiri? "Lihat tuh, dede lebih pintar, dia bisa juara dan sebagainya. Kamu bisa apa? Apa-apa gak bisa." Ditambah kalau sepupu lainnya membantu membuat statement itu lebih hangat dalam panci. "Iya tuh, kok anak lu yang itu tidak bisa apa-apa sih. Pasti ada aja yang salah. Ceroboh lagi." What a life, huh! Mungkin inilah yang semakin membuat gua sangat tidak menerima mama.
Buat gua, waktu itu, mama bukanlah sosok yang bisa gua andalkan. Bukan pribadi yang bisa jadi panutan, teladan buat hidup gue. Jangankan panutan, ngomong pun gue sudah ogah. Hubungan gue jadi sangat tidak baik dengan mama. Kalau butuh uang, gue gak akan pergi minta ke mama, mintanya ya ke papa. Gue dulu iri banget sama orang yang bisa cerita banyak sama mamanya. Kayaknya mama jadi teman, sahabat buat dia. I had no experience about that. Gue merasa, gue tidak akan mengalami hal itu. Kalau misalkan mau pergi keluar, gue gak akan ijin. Gue akan ngomong sama papa. Pokoknya ngomong sama mama, seadanya aja. Kalau gak penting, gak usah. Itu motto gue dulu.
Kejadian ini pun gak berlangsung sebentar. Sampai gue menginjakkan kaki ke sekolah menengah pertama pun, hubungan masih tidak kunjung baik. Tapi di SMP 1 lah, perjumpaan dengan Yesus menjadi awal dari hidup berkemenangan. Gue bahkan bertekad waktu itu, gue akan tunjukkin sama papa mama, kalau gue itu bisa diandalkan. Gue mau buat papa mama bangga. Tapi apakah hubungan gue dengan mama membaik? Nope. Gue masih tidak berbicara, tidak bercerita, tidak menjadikan dia panutan. Akar pahit itu masih tetap ada. Sampai tibalah gue di masa SMP 3. Banyak proses yang sudah Tuhan kasha buat gue jalanin. Dan gue tau, Dia mau proses gue soal kesakitan yang gue alamin ini. Ada suatu masa pas gue duduk di kelas 3 SMP itu dan masa-masa dimana gue akan mengikuti ujian akhir. Jadi seperti murid senior pada umumnya, try out sering dilakukan, persekutuan doa mulai dicanangkan. Dan hari itu menjadi hari bersejarah buat gue dan akar pahit ini.
Sebelum hari itu tiba, entah kenapa selama 2 minggu berturut-turut gue sangat amat bersitegang dengan mama. Ada aja bahasan yang buat dia sangat amat memojokkan gue. Mulai dari perbandingan tiada akhir, masih menganggap gue gak bisa apa-apa dan sebagainya. Dan itu benar-benar buat gua lelah physically and mentally. Tapi sebagai anak yang sudah mengenal Yesus, waktu itu gue hanya diam, tanpa melakukan apa-apa. Hari yang gue sebutkan sebelumnya. Persekutuan doa seusai sekolah seperti biasa diadakan. Kita menaikkan pujian penyembahan, berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan seperti hari-hari sebelumnya. Tapi tiba-tiba salah seorang teman gue buka suara, "gue boleh share sesuatu?" Then, pembicaraan pun dimulai. Dia mulai bicara soal mamanya. Dia merasa dia tidak diterima mamanya, ada perasaan kecewa dsbnya. Dan yang mengejutkan adalah setelah teman gue ini bicara, ada beberapa teman-teman yang menyuarakan hal yang sama tentang hal ini. Dalam hati pun gue bicara, ternyata I am not alone. Gue pun akhirnya share apa yang sedans gue alumni dengan mama selama 2 minggu terakhir. Gue yakin bahwa hari itu adalah hari dimana Yesus sedang ingin menyembuhkan luka gua. Terjadilah small altar call, dibimbing oleh guru agama, tantangan untuk mengampuni orang tua kami, papa mama kami pun dinyatakan, and I was one of many children who confessed that I would like to forgive our parents. Kita yang begitu berdosa aja, tidak layak, masih begitu dikasihi dan diampuni bahkan Yesus sampai mati dikayu salib buat manusia berdosa, sehingga hubungan antara kita dan Bapa dipulihkan. Masakah gue yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Yesus tidak mau mengampuni. Jujur disaat itu damai sejahtera benar mengalir dalam hati. Dan confession saat itu menjadi awal dari perdamaian yang ingin Tuhan perbuat antara gue dan mama.
Prosesnya tidak mudah. Yesus mulai ngajarin gue, bahwa saat gue mengampuni, Yesus tidak merubah mama serta merta menjadi mama yang sangat angelic dan baik hati, but He changes my heart responds. Dia mengubah respon hati gue terhadap mama, dan Tuhan membantu dalam proses. Dimulai dari SMA 1, waktu itu ada tugas BK dimana setiap murid harus memberikan sesuatu atau melakukan kontribusi sesuatu untuk mamanya dalam rangka merayakan hari mama. Uhhh, saat itu hubungan gue belum membaik dengan mama, jadi yang namanya kasih atau melakukan sesuatu buat mama sangat amat awkward moment banget. Tapi gue tau, Yesus sedang melatih gue, dan itu tugas. Alhasil, sok-sok an dah gue mau kasih mama sebuah kue bikinan gue sendiri! (percayalah, waktu itu masak pun gue gak bisa, apalagi bikin kue) Janjian ama temen gue, kita buat lah kue di rumah gue. Singkat cerita, kuenya gosong, gak gitu enak, apalagi buat dimakan. Totally failed! Hah! Mama pulang lah dari aktivitas dia, melihat dapur berantakkan, dan kue yang sangat gagal itu mulai berceramah. Dan yang gue lakukan, gue naik ke kamar dan nangis. Disitu gue doa ama Tuhan, gue sedih, kok mau baikkan sama mama susah banget. Akhirnya, kepikiran lah untuk buat surat. Gue bukan tipe yang bisa cerita sama mama. Jadi gue pake surat, berisikan gue minta maaf, gue berterima kasih atas setiap hal yang dia lakuin, perhatian dsbnya, walau gue merasa kadang ajaran dia itu salah, dan akhirnya gue bilang I love you, Mom. (Uhhh, sounds sweet.) Karena gue gak berani kasih langsung, gue suruh adik gue untuk kasih itu ke mama. Dan kalian harus tau apa yang terjadi. NOTHING! Hahaha. Mama tidak membalas itu surat, tidak bicara apapun, tidak ada apa-apa. Damn, apa maksudnya? Saat itu, gue sama sekali tidak mengerti. Tapi akhir-akhir ini gue tau, mama menyimpan apa yang gue katakan dalam hatinya. Ini sama seperti cerita Yesus dan orang tuanya di Bait Allah pada umur 12 tahun. (Baca Matius 2 : 41 -52)
Singkatnya, waktu itu Yesus dan orang tuanya sedang pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Paskah. Sehabis perayaan, pulanglah semua rombongan kembali, begitu juga dengan Yusuf dan Maria, tapi ternyata Yesus tidak bersama mereka. Dipikir Yusuf dan Maria, Yesus ada dalam rombongan, padahal tidak. Pas orang tua Yesus tau kalau Yesus tidak bersama mereka, kembali mereka mencari ke Yerusalem lagi. Dikatakan perjalanan mereka 3 hari jauhnya. Udah cemas panik, pas ketemu sama Yesus di Bait Allah, layaknya mama jaman sekarang, "kamu tuh kemana aja, bikin mama sama papa tuh khawatir." Yang dijawab Yesus, "Ma, ini tuh tempat aku, I am belong here." Tapi setelah itu, Yesus tetap nurut ikut pulang papa mamanya. Dan yang Maria (mama) lakukan dikatakan di ayat 51b, "Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu dalam hatinya." Hmm, ini juga yang gue sadari. Waktu itu, mama tidak melakukan apa-apa, she did nothing to my letter and confession. Tapi dia menyimpan semua perkara itu dalam hatinya. Dia tau gue sayang sama dia. Dia tau kalau gue gak suka dibandingin, gak suka dianggap gak bisa. Dia memperhitungkan semua perkataan gue itu dalam hatinya.
So, semenjak saat surat itu gak direspon, gue melakukan bagian gue yang terbaik. Gue mulai gak ngelawan kalau dia marah-marah, gue mulai minta ijin sama dia kalau mau pergi, mulai minta duit ke dia kalau lagi butuh apa. Dan sekarang keadaan memang sangat amat membaik. Dari yang tadinya gue sangat tidak respect sama dia, sekarang gue sangat sayang sama mama. Gue bahkan gak kebayang kalau mama tidak ada. Bahkan sekarang pun gue bisa cerita apa aja, bercanda bahkan sampai ngejek mama, sudah macam sahabatan aja. And I know it's just because He loves me and have forgiven me first, therefore I could forgive other people and love others.
Kolose 3 : 12 - 13 (TB)
"Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menorah dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah juga demikian."
Sekian cerita ini, mari belajar mengampuni.
Tuhan Yesus memberkati. :)
This is my calatorie.....
Gue belajar untuk mengerti arti sebuah pengampunan itu dari perjalanan hidup gue bersama MAMA. Yes, you're not hearing it wrong. MOM. Gue dilahirkan dan dibesarkan di keluarga dengan mama yang cukup keras. Menurut gue, waktu itu mama sangat amat bukan mama yang baik. Ini berawal dari SD kelas 3, dimana gue sudah mengerti arti persahabatan (sudah mulai punya teman baik, ceritanya). Gue jadi punya beberapa teman dekat. Seringlah namanya juga anak-anak, main ke rumah teman itu biasa, wajar. Tapi di saat itu, mama gue tidak terlalu mengijinkan. Mungkin karena waktu itu gue sudah terlalu sangat amat sering keluar rumah, jadi mulailah 'keras' mama keliatan. Dia mulai menarik gue pulang dengan paksa, mulai 'memukul' dengan ini dan itu (mungkin beberapa dari kalian mengalami hal yang sama). Dan hal itu berlangsung lama. Semakin dilarang ini dan itu. Sampai ada satu titik dimana gue mulai melawan perkataan nyokap. Gue bilang "Aku minta kebebasan!" Dan akhirnya gue pun keluar rumah dari siang, sampai malam baru pulang. Mungkin itu pertama kalinya yang membuat gua sangat amat tidak menyukai mama.
Ini pernyataan yang pasti setiap kita pernah mendengar, bahwa hidup itu terkadang menjadi sebuah perbandingan. Kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain, atau bahkan banyak orang membandingkan kita dengan orang lain atau dirinya sendiri. Itu terjadi dengan hidup gue. Gue sudah menjadi bahan perbandingan sejak kecil, dan tak lain tak bukan adalah mama gua sendiri. Dari kecil, mama suka bandingin, "kenapa kamu dapat nilai jelek sih? Kayak dia dong, pintar, juara, kamu nilai jelek mulu." Kalau sama teman mungkin tidak begitu berasa, tapi gimana kalau misalkan itu terjadi dengan saudara mu sendiri? "Lihat tuh, dede lebih pintar, dia bisa juara dan sebagainya. Kamu bisa apa? Apa-apa gak bisa." Ditambah kalau sepupu lainnya membantu membuat statement itu lebih hangat dalam panci. "Iya tuh, kok anak lu yang itu tidak bisa apa-apa sih. Pasti ada aja yang salah. Ceroboh lagi." What a life, huh! Mungkin inilah yang semakin membuat gua sangat tidak menerima mama.
Buat gua, waktu itu, mama bukanlah sosok yang bisa gua andalkan. Bukan pribadi yang bisa jadi panutan, teladan buat hidup gue. Jangankan panutan, ngomong pun gue sudah ogah. Hubungan gue jadi sangat tidak baik dengan mama. Kalau butuh uang, gue gak akan pergi minta ke mama, mintanya ya ke papa. Gue dulu iri banget sama orang yang bisa cerita banyak sama mamanya. Kayaknya mama jadi teman, sahabat buat dia. I had no experience about that. Gue merasa, gue tidak akan mengalami hal itu. Kalau misalkan mau pergi keluar, gue gak akan ijin. Gue akan ngomong sama papa. Pokoknya ngomong sama mama, seadanya aja. Kalau gak penting, gak usah. Itu motto gue dulu.
Kejadian ini pun gak berlangsung sebentar. Sampai gue menginjakkan kaki ke sekolah menengah pertama pun, hubungan masih tidak kunjung baik. Tapi di SMP 1 lah, perjumpaan dengan Yesus menjadi awal dari hidup berkemenangan. Gue bahkan bertekad waktu itu, gue akan tunjukkin sama papa mama, kalau gue itu bisa diandalkan. Gue mau buat papa mama bangga. Tapi apakah hubungan gue dengan mama membaik? Nope. Gue masih tidak berbicara, tidak bercerita, tidak menjadikan dia panutan. Akar pahit itu masih tetap ada. Sampai tibalah gue di masa SMP 3. Banyak proses yang sudah Tuhan kasha buat gue jalanin. Dan gue tau, Dia mau proses gue soal kesakitan yang gue alamin ini. Ada suatu masa pas gue duduk di kelas 3 SMP itu dan masa-masa dimana gue akan mengikuti ujian akhir. Jadi seperti murid senior pada umumnya, try out sering dilakukan, persekutuan doa mulai dicanangkan. Dan hari itu menjadi hari bersejarah buat gue dan akar pahit ini.
Sebelum hari itu tiba, entah kenapa selama 2 minggu berturut-turut gue sangat amat bersitegang dengan mama. Ada aja bahasan yang buat dia sangat amat memojokkan gue. Mulai dari perbandingan tiada akhir, masih menganggap gue gak bisa apa-apa dan sebagainya. Dan itu benar-benar buat gua lelah physically and mentally. Tapi sebagai anak yang sudah mengenal Yesus, waktu itu gue hanya diam, tanpa melakukan apa-apa. Hari yang gue sebutkan sebelumnya. Persekutuan doa seusai sekolah seperti biasa diadakan. Kita menaikkan pujian penyembahan, berdoa dan mendengarkan Firman Tuhan seperti hari-hari sebelumnya. Tapi tiba-tiba salah seorang teman gue buka suara, "gue boleh share sesuatu?" Then, pembicaraan pun dimulai. Dia mulai bicara soal mamanya. Dia merasa dia tidak diterima mamanya, ada perasaan kecewa dsbnya. Dan yang mengejutkan adalah setelah teman gue ini bicara, ada beberapa teman-teman yang menyuarakan hal yang sama tentang hal ini. Dalam hati pun gue bicara, ternyata I am not alone. Gue pun akhirnya share apa yang sedans gue alumni dengan mama selama 2 minggu terakhir. Gue yakin bahwa hari itu adalah hari dimana Yesus sedang ingin menyembuhkan luka gua. Terjadilah small altar call, dibimbing oleh guru agama, tantangan untuk mengampuni orang tua kami, papa mama kami pun dinyatakan, and I was one of many children who confessed that I would like to forgive our parents. Kita yang begitu berdosa aja, tidak layak, masih begitu dikasihi dan diampuni bahkan Yesus sampai mati dikayu salib buat manusia berdosa, sehingga hubungan antara kita dan Bapa dipulihkan. Masakah gue yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Yesus tidak mau mengampuni. Jujur disaat itu damai sejahtera benar mengalir dalam hati. Dan confession saat itu menjadi awal dari perdamaian yang ingin Tuhan perbuat antara gue dan mama.
Prosesnya tidak mudah. Yesus mulai ngajarin gue, bahwa saat gue mengampuni, Yesus tidak merubah mama serta merta menjadi mama yang sangat angelic dan baik hati, but He changes my heart responds. Dia mengubah respon hati gue terhadap mama, dan Tuhan membantu dalam proses. Dimulai dari SMA 1, waktu itu ada tugas BK dimana setiap murid harus memberikan sesuatu atau melakukan kontribusi sesuatu untuk mamanya dalam rangka merayakan hari mama. Uhhh, saat itu hubungan gue belum membaik dengan mama, jadi yang namanya kasih atau melakukan sesuatu buat mama sangat amat awkward moment banget. Tapi gue tau, Yesus sedang melatih gue, dan itu tugas. Alhasil, sok-sok an dah gue mau kasih mama sebuah kue bikinan gue sendiri! (percayalah, waktu itu masak pun gue gak bisa, apalagi bikin kue) Janjian ama temen gue, kita buat lah kue di rumah gue. Singkat cerita, kuenya gosong, gak gitu enak, apalagi buat dimakan. Totally failed! Hah! Mama pulang lah dari aktivitas dia, melihat dapur berantakkan, dan kue yang sangat gagal itu mulai berceramah. Dan yang gue lakukan, gue naik ke kamar dan nangis. Disitu gue doa ama Tuhan, gue sedih, kok mau baikkan sama mama susah banget. Akhirnya, kepikiran lah untuk buat surat. Gue bukan tipe yang bisa cerita sama mama. Jadi gue pake surat, berisikan gue minta maaf, gue berterima kasih atas setiap hal yang dia lakuin, perhatian dsbnya, walau gue merasa kadang ajaran dia itu salah, dan akhirnya gue bilang I love you, Mom. (Uhhh, sounds sweet.) Karena gue gak berani kasih langsung, gue suruh adik gue untuk kasih itu ke mama. Dan kalian harus tau apa yang terjadi. NOTHING! Hahaha. Mama tidak membalas itu surat, tidak bicara apapun, tidak ada apa-apa. Damn, apa maksudnya? Saat itu, gue sama sekali tidak mengerti. Tapi akhir-akhir ini gue tau, mama menyimpan apa yang gue katakan dalam hatinya. Ini sama seperti cerita Yesus dan orang tuanya di Bait Allah pada umur 12 tahun. (Baca Matius 2 : 41 -52)
Singkatnya, waktu itu Yesus dan orang tuanya sedang pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Paskah. Sehabis perayaan, pulanglah semua rombongan kembali, begitu juga dengan Yusuf dan Maria, tapi ternyata Yesus tidak bersama mereka. Dipikir Yusuf dan Maria, Yesus ada dalam rombongan, padahal tidak. Pas orang tua Yesus tau kalau Yesus tidak bersama mereka, kembali mereka mencari ke Yerusalem lagi. Dikatakan perjalanan mereka 3 hari jauhnya. Udah cemas panik, pas ketemu sama Yesus di Bait Allah, layaknya mama jaman sekarang, "kamu tuh kemana aja, bikin mama sama papa tuh khawatir." Yang dijawab Yesus, "Ma, ini tuh tempat aku, I am belong here." Tapi setelah itu, Yesus tetap nurut ikut pulang papa mamanya. Dan yang Maria (mama) lakukan dikatakan di ayat 51b, "Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu dalam hatinya." Hmm, ini juga yang gue sadari. Waktu itu, mama tidak melakukan apa-apa, she did nothing to my letter and confession. Tapi dia menyimpan semua perkara itu dalam hatinya. Dia tau gue sayang sama dia. Dia tau kalau gue gak suka dibandingin, gak suka dianggap gak bisa. Dia memperhitungkan semua perkataan gue itu dalam hatinya.
So, semenjak saat surat itu gak direspon, gue melakukan bagian gue yang terbaik. Gue mulai gak ngelawan kalau dia marah-marah, gue mulai minta ijin sama dia kalau mau pergi, mulai minta duit ke dia kalau lagi butuh apa. Dan sekarang keadaan memang sangat amat membaik. Dari yang tadinya gue sangat tidak respect sama dia, sekarang gue sangat sayang sama mama. Gue bahkan gak kebayang kalau mama tidak ada. Bahkan sekarang pun gue bisa cerita apa aja, bercanda bahkan sampai ngejek mama, sudah macam sahabatan aja. And I know it's just because He loves me and have forgiven me first, therefore I could forgive other people and love others.
Kolose 3 : 12 - 13 (TB)
"Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menorah dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuatlah juga demikian."
Sekian cerita ini, mari belajar mengampuni.
Tuhan Yesus memberkati. :)
Komentar
Posting Komentar